Dia memang aneh...
Ini yang ke tiga kalinya aku datang
ke tempat ini, semoga nasibku tidak sama seperti kemarin. Datang pagi-pagi
sampai aku lupa makan, lupa mandi, supaya aku bisa menyimpan lamaran lebih
cepat, karena direktur penerbit di tempat itu sangat sibuk dan hanya bisa ada
dikantornya dari jam 7 sampai jam 10 sajah, tapi tetap sajah aku datang
terlambat karena memang tempatnya sangat jauh dari rumahku, dan akhirnya aku tidak
bisa menemuinya, sekertarisnya menyuruhku untuk meninggalkan surat lamaran itu,
apabila direkturnya ada nantidia sampaikan, tapi aku tidak suka menunggu,
makanya lebih baik ku bawa sajah lagi surat lamaran itu dan datang lagi besok.
Esoknya aku berusaha untuk tidak tidur semalaman, karena jika sudah tidur, aku
sudah seperti orang mati, susah sekali dibangunkan, makanya malam ini ku sudah
menyiapkan beberapa film dan kopi supaya aku tidak tidur dan bisa pergi
pagi-pagi.
“Hey... Apa
yang kau lakukan, ini sudah larut malam kau malah tertawa sendiri, bukannya
tidur. Mentang-mentang kau masih libur sekolah, cepat matikan TV nya!!!” bentak
ibu dibelakangku.
Saat aku ingin
menjawab dan menengok kebelakang.
“WAAAA . .
. . . . . . . . . “ aku berteriak kaget, diikuti ibu yang latah mendengar
teriakkan ku.
“Aih....
ibu ini mengagetkan ku saja.” Sambil memukul wajah ibu dengan bantal kursi.
“Apa-apaan
kau ini, kau yang berteriak mengagetkan ku.” Bela ibu sambil memukul balik
kepalaku dengan handuk yang dipegangnya.
“Aku
berteriak karena ibu tiba-tiba muncul dari belakang kursi, dengan muka yang
dilumuri masker malam-malam seperti ini, apa tidak bisa ibu bicara tanpa
mengagetkanku seperti itu.”
“Aku tadi
baru mau mencucinya tapi mendengar suara kau yang sedang tertawa kencang
sekali, makanya aku kesini. Lagi pula apa yang kau lakukan bergadang nonton
film seperti ini, tidak biasanya.”
“Aku ingin
bangun pagi bu besok, makanya aku tidak tidur malam ini supaya aku bisa bangun
pagi.”
“Apa kau
yakin?” tanya ibu dengan wajah memperolok ku.
“Tentu ku
yakin, lihat saja nanti pagi.”
“Baiklah,
kalau sampai kau ketahuan tidur, tak akan ku bangunkan.”
“Terserah,
karena besok aku tidak butuh teriakan ibu untuk membangunkan ku lagi, sudah,
pergi sanah cuci muka ibu!” sambil mendorong ibu supaya cepat pergi.
“Baik-baik
aku pergi, tapi jangan menangis kalau kau besok kesiangan lagi.”
“IYA.”
Benar-benar
ibu yang menyebalkan. Untung tidak ada sejarah keturunan dari ayah dan ibu yang
mengidap penyakit jantung, aku masih kaget, sampai-sampai aku yang sedang
menonton film drama komedi romantis pun berubah seperti menonton drama komedi
dramatis.
Mataku
mulai berat, seperti ada batu yang bergelantungan dibulu mataku,
merem-melek-merem-melek-merem.....-melek-merem.....-melek. Ternyata kopiku
sudah habis, padahal aku sudah meminum lima gelas kopi tapi kenapa ku masih
ngantuk, akupun berusaha berjalan dengan benar ke dapur dan menyeduh kopi lagi.
Saat aku ingin dududk dan memutar film lagi aku melirik jam dinding diatas TV
ternyatasudah jam setengahlima pagi, mungkin lebih baik aku mandi sekarang
sambil mangusir rasa ngantuk ini. Saat aku melihat ke kaca kamar setelah mandi,
ada lingkaran hitam di bawah mataku. Baru sajah tidak tidur satu hari sudah
begini, apalagi kalau aku tidak tidur sebulan, mungkin lingkar hitamnya sudah
sampai kepipi. Tapi apa lingkar hitam dibawah mata ini tidak mengganggu nanti,
saat ku bertemu dengan direktur penerbit itu. Sudah ku tutupi dengan bedak, eye
shadow, eye liner dan sebagainya, tapi tetap sajah lingkar hitamnya terlihat.
Mungkin pakai kacamata saja, tapi aku tidak punya kacamata, apa ibu punya kaca
mata? Biar nantiku lihat sepertinya ibu punya.
Baju, tas,
sudah rapih, berkas-berkas lamaran pun sudah ku masukkan, tinggal kacamata,
sepertinya ibu belum bangun.
“Bu, sudah
bangun belum?” teriakku dibalik pintu kamar ibu.
“Masuk! Ada
apa, kalau mau berangkat ya sudah hati-hati.”
Jawab Ibu, sambil berganti posisi lalu menarik lagi selimutnya.
“Ibu punya
kacamata tidak? Aku pinjam ya?”
“heuh..”
Ibu hanya jawab seadanya saja, mungkin dia ngantuk sekali.
Karena
terburu-buru aku pun mencari nya sendiri, di laci pertama tidak ada, kedua juga
tidak ada, mau tidak mau akupun bertanya kepada ibu.
“Bu
kacamatanya dimana?
“Kau ini,
mengganggu sajah. Di laci ke dua kau cari sajah.”
"ya sudah bu, aku pergi dulu ya.."
Untungnya sesampainya di halte, sudah datang bis, penumpang di dalam bis sudah hampir penuh, padahal masih pagi, masih pukul 6,atau mungkin itu terlalu pagi untukku, yang biasa bangun jam10 atau jam 11 pagi hehe
Tidak sampai satu jam aku sudah sampai di kantor penerbit, tapi suasana kantor masih sepi, sepertinya aku kepagian, tapi tak apa-apa asalkan aku tidak terlambat lagi bertemudengan direktur penerbitnya. Tidak lama kemudian pintu masuk dibuka juga oleh satpam, aku pun langsung masuk, setelah aku masuk sekertaris nya yang sudah ku kenal berbarengan masuk dengan ku.
"ya sudah bu, aku pergi dulu ya.."
Untungnya sesampainya di halte, sudah datang bis, penumpang di dalam bis sudah hampir penuh, padahal masih pagi, masih pukul 6,atau mungkin itu terlalu pagi untukku, yang biasa bangun jam10 atau jam 11 pagi hehe
Tidak sampai satu jam aku sudah sampai di kantor penerbit, tapi suasana kantor masih sepi, sepertinya aku kepagian, tapi tak apa-apa asalkan aku tidak terlambat lagi bertemudengan direktur penerbitnya. Tidak lama kemudian pintu masuk dibuka juga oleh satpam, aku pun langsung masuk, setelah aku masuk sekertaris nya yang sudah ku kenal berbarengan masuk dengan ku.
